Kamis, 22 Mei 2014

MAKALAH ETIKA KEILMUAN


 BAB I
PENDAHULUAN

                Ilmu Pengetahuan merupakan alat bagi manusia, yang diciptakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Dengan  ilmu dapat diciptakan suasana yang lebih baik dan dengan demikian melalui ilmulah manusia dapat lebih mudah mencapai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan. Meskipun  dalam perkembangannya kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu mensejahterakan manusia, tetapi banyak pula keburukan bahkan penderitaan yang dialami oleh manusia sebagai dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sebagai sebuah disiplin ilmu dan keilmuan, didalamnya tekandung nilai-nilai seperti etika, moral, norma, dan kesusilaan. Demikian pula pada aplikasinya, seorang ilmuwan dalam kehidupan sehari-hari seakan dituntut untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya, baik saat berpikir maupun bertindak. Kendati tinggi ilmu seseorang, apabila tidak memiliki nilai-nilai yang sudah menjadi semacam aturan dalam kehidupannya dan tidak memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk kebaikan dan kemaslahatan orang banyak orang tersebut tidak akan dipandang tinggi.
 Dalam filsafat juga memiliki konsep pemikiran  baik dan buruk  yang dikenal dengan nama etika, yakni aturan untuk membedakan baik dan buruk.  Suatu ilmu dan etika adalah sumber pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku menyimpang di kalangan masyarakat. Untuk itu peranan ilmu sangat dibutuhkan sebagai sumber moralitas dalam mengembangkan kesejahteraan  dan kemaslahatan manusia.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas ada beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah etika keilmuan ini adalah:
1.      Penngertian etika, moral
2.      Hubungan antara ilmu pengetahuan dan etika
3.      Apakah ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai
4.      Persoalan etika ilmu pengetahuan
5.      Sikap ilmiah dan tanggung jawab ilmuwan

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Etika, Moral
Secara etimologis etika berasal dari kata ethos yang berarti adat, kebiasaan atau susila. Dalam filsafat etika membicarakan tentang tingkah laku atau perbuatan manusia dalam kaitan antara baik dan buruk. Baik dan buruk adalah suatu penilaian atas apa yang bisa dilihat dan dirasakan seperti perbuatan dan tingkah laku. Sedangkan untuk hal-hal yang menyangkut aspek motif atau watak, sulit dinilai. Secara garis besar ada dua macam etika yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif hanya bersifat menggambarkan, melukiskan dan menceritakan sesuatu seperti apa adanya tanpa memberikan penilaian atau pedoman tentang bagaimana seharusnya bertindak. Sedangkan etika selain memberikan penilaian baik dan buruk juga memberikan pedoman mana yang harus diperbuat dan yang tidak.[1]
Dalam bahasa Yunani, ethika berati ethikos yang mengandung arti karakter, kebiasaan, kecenderungan dan sikap yang menagandung analisis konsep-konsep seperti harus, benar salah, mengandung pencarian watak ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral atau mengandung pencarian kehidupan yang baik secara moral. Etika secara lebih detail merupakan ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moral.[2]
Moral berasal dari bahasa Latin moralis (kata dasar mos, moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, cara, dan tingkah laku. Moral berarti sesuatu yang menyangkut prinsip benar salah, dan salah satu  dari suatu perilaku yang menjadi standar perilaku manusia. Bila dijabarkan lebih lanjut moral mengandung empat pengertian: i)baik-buruk, benar-salah dalam aktifitas manusia, ii) tindakan yang adil dan wajar, iii) kapasitas untuk diarahkan pada kesadaran benar-salah, dan kepastian untuk mengarahkan orang lain agar sesuai dengan kaidah tingkah laku yang dinilai benar-salah dan iv) Sikap seseorang dalam hubungannya dengan orang lain.[3]
 B.     Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Etika
Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran yang mengatakan bagaimana seharusnya hidup, tetapi itu adalah ajaran moral. Ilmu Pengetahuan dan etika sebagai suatu pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat. Ilmu pengetahuan dan etika diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masayarakat sekitar agar dapat menjadi ilmuwan yang memiliki moral  dan akhlak yang baik dan mulia.
Sebagai suatu obyek, etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu maupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dilakukan itu salah atau benar, baik atau buruk. Dengan begitu dalam proses penilaiannya ilmu pengetahuan sangat berguna dalam memberikan  arah atau pedoman  dan tujuan masing-masing orang. Ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkan martabat seseorang.
Etika memberikan batasan maupun standar yang mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya yang kemudian dirupakan ke dalam aturan tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat diperlukan dapat di fungsikan sebagai pedoman untuk melakukan tindakan tertentu terhadap segala macam tindakan yang secara umum dinilai menyimpang dari kode etik yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Ilmu sebagai asas moral atau etika mempunyai kegunaan khusus yakni kegunaan universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat kemanusiaannya. [4]
 Masalah moral tidak dapat dilepaskan dengan tekad nanusia untuk menemukan kebenaran. Sebab untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran diperlukan keberanian. Sejarah kemanusiaan telah mencatat semangat para ilmuwan yang rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Kemanusiaan tak pernah urung dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan akan mudah melakukan pemaksaan intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkat kemanusiaannya  berganti dengan proses rasionalisasi yang mendustakan kebenaran. [5]
Maka inilah pentingnya etika dan moral dalam ilmu pengetahuan yang menyangkut tanggung jawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya ilmu pengetahuan juga mempunyai akibat positif dan negatif bahkan destruktif maka diperlukan nilai atau norma untuk mengendalikannya. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak yang akan menjadi pengendali bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan  kebahagiaan manusia.
 C.     Apakah Ilmu Bebas Nilai atau Tidak Bebas Nilai?
Untuk membedakan apakah ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai kita perlu membedakan antara penyelenggaraan ilmu itu sendiri dan penerapan Ilmu, antara mengusahakan ilmu dan menggunakan ilmu. Ilmu memang mewakili nilai tertentu, ilmu bernilai karena menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya, yang obyektif dan dikaji secara kritis. Bebas nilai adalah tuntutan bagi ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan niali-nilai lain di luar ilmu, agar ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan dan tidak didasarkan pada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan tunduk pada berbagai pertimbangan di luar ilmu pengetahuan seperti politik, religius dan moral, ilmu tidak akan berkembang secara otonom, karena ilmu menjadi tidak murni. Di sini ada bahaya kebenaran yang harus dikorbankan demi nilai-nilai lain. Dengan demikian kita tidak akan pernah mencapai kebenaran ilmiah dan rasional-obyektif.[6]
Menurut Konrad Kebung (2011) ilmu harus bebas nilai  dan lepas dari nilai-nilai di luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bertujuan memberi pemahaman tentang pelbagai masalah dalam hidup. Ada dua kecenderungan dasar dalam melihat tujuan  ilmu pengetahuan. Pertama, kecenderungan puritan-elitis (ilmu adalah sesuatu yang mewah, elit), bahwa tujuan akhir dari ilmu pengetahuan adalah demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu bertujuan untuk menemukan penjelasan tentang sagala sesuatu demi kebenaran yang memuaskan rasa ingin tau manusia. Kepuasan seorang ilmuwan adalah menemukan teori-teori besar yang dapat menjelaskan pelbagai persoalan terlepas dari kegunaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan begitu ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang elit, mewah dan hanya untuk segelintir orang saja. Kedua, Kecenderungan pragmatis, ilmu pengetahuan tidak hanya untuk mencari penjelasan tentang berbagai persoalan tetapi juga untuk memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan, karena berguna ilmu menjadi menarik, membuat hidup menjadi lebih baik dan menyenangkan.[7]
Josep Situmorang (1996) seperti dikutip oleh Mohammad Adib, MA, menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri. [8]  Ada  tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu: 1) Ilmu harus bebas dari pengeruh eksternal seperti faktor politis, idiologis, agama, budaya dan unsur kemasyarakatan lainnya, 2)Perlunya kebebasan ilmiah yang mendorong terjadinya otonomi ilmu pengetahuan. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan untuk menentukan diri sendiri, 3) Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis (yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu), karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Seorang sosiolog, Weber menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai, tetapi ia juga mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial harus menjadi nilai yang relevan. Weber tidak yakin ketika para ilmuwan sosial melakukan aktifitasnya seperti mengajar atau menulis mengenai bidang sosial itu, mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai itu harus diimplikasikan ke dalam bagian praktis ilmu sosial jika praktik itu mengandung tujuan rasional. Tanpa keinginan melayani kepentingan orang, budaya, maka ilmu sosial tidak beralasan untuk diajarkan. Jadi meskipun obyektifitas merupakan ciri mutlak ilmu pengetahuan, tetapi dalam pengembangan atau penerapannya ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.[9]
 D.    Persoalan Etika Ilmu Pengetahuan
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu memerlukan pertimbangan-pertimbangan dari dimensi etis dan hal ini tentu sangat berpengaruh pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan. Tanggung jawab etis ini menyangkut  kegiatan atau penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Sehingga seorang ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi harus selalu memperhatikan kodrat dan martabat manusia, ekosistem dan  bertanggung jawab terhadap kepentingan generasi yang akan datang dan kepentingan umum, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi itu bertujuan untuk pelayanan eksistensi manusia  dan bukan sebaliknya untuk menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri.
Tanggung jawab ini juga termasuk berbagai hal yang menjadi sebab dan akibat ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa lalu maupun masa yang akan datang. Jadi bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat atau meningkatkan keberadaan manusia tergantung pada manusia itu sendiri, karena ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, yakni kedewasaan untuk menentukan mana yang layak atau tidak layak, mana yang baik dan mana yang buruk.
Beberapa problem yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dicontohkan oleh Amsal Bakhtiar (2010) pada perkembangan  ilmu bioteknologi, perkembangan yang dicapai sangat maju seperti rekayasa genetika yang menghkhawatirkan banyak kalangan. Tidak saja para agamawan dan pemerhati hak-hak asasi manusia tetapi para ahli bioteknologipun juga semakin khawatir karena jika akibatnya tidak bisa dikendalikan  maka akan terjadi bencana  besar bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh adalah rekayasa genetika yang dahulunya bertujuan untuk mengobati penyakit keturunan seperti diabetes, sekarang rekayasa tidak hanya bertujuan untuk pengobatan tetapi untuk menciptakan manusia-manusia baru yang sama sekali berbeda baik secara fisik maupun sifat-sifatnya. Dengan rekayasa tersebut manusia tidak memiliki hak yang bebas lagi. Meskipun teori ini belum tentu terwujud dalam waktu singkat tetapi telah menimbulkan persoalan dan kekhawatiran di kalangan ahli etika dan para agamawan, apalagi jika jatuh pada penguasa yang lalim pasti dampaknya akan sangat membahayakan karena bisa menghancurkan eksistensi manusia.[10] Maka disinilah diperlukan kedewasaan dari manusia itu sendiri untuk menentukan mana yang baik dan buruk bagi kehidupannya.
Tugas terpenting ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia, tetapi juga merupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia baik dalam hubungan sebagai pribadi dengan lingkungannya, maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Allah Swt.
E.     Sikap llmiah  dan tanggung jawab Ilmuwan
Ilmu adalah suatu cara berpikir tertentu mengenai suatu obyek dengan pendekatan yang khas sehingga menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan ilmiah, dalam arti bahwa sisten dan struktur ilmu itu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang bersifat kritis, rasional dan logis, obyektif dan terbuka. Namun yang juga penting adalah apakah pengembangan pengetahuan ilmiah itu membawa dampak positif`dan baik  bagi manusia atau sebaliknya justru membawa keburukan. Oleh karena itu penting sekali sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Dan di sini letak moralitas dari seorang ilmuwandalam penembangan ilmu, baik itu menyangkut tanggungjawabnya terhadap tata alamiah, terhadap manusia maupun terhadap Allah Swt. Sikap ilmiah yang sesuai bagi seorang ilmuwan antara lain: i) tidak adanya rasa pamrih yaitu suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang obyektih; ii) Bersikap selektif yang menyangkut cara mengambil kesimpulan yang beragam, macam-macam metodologi dan lain-lain;            iii) selalu tidak merasa puas dengan hasil penelitiannya sehingga selalu ada dorongan untuk melakukan riset dalam hidupnya dan iv) Memiliki sikap etis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan demi kebahagiaan manusia dan untuk pembangunan bangsa dan negara.[11]
Ilmu pengetahuan menghasilkan teknologi yang diterapkan pada masyarakat. Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
Proses transformasi ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlepas dari ilmuwan. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuan serta masalah bebas nilai. Fungsi ilmuwan tidak berhenti pada penelaah dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggungjawab agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat.  Sekiranya hasil karya itu memenuhi syarat-syarat keilmuan maka dia diterima sebagai bagian dari kumpulan ilmu pengetahuan dan digunakan oleh masyarakat tersebut. Dengan perkataan lain, penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial. Peranan individu inilah yang bersifat dominan dalam kemajuan ilmu yang dapat mengubah wajah peradaban. Kreatifitas individu yang didukung oleh sistem komunikasi sosial yang bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu berjalan secara efektif. Maka jelaslah bahwa seorang  ilmuwan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat, namun yang lebih penting adalah adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. [12]
Implikasi penting dari tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah bahwa setiap pencarian dan penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan etis yang utuh.. Proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi etika, merupakan kategori moral yang menjadi dasar sikap etis seorang ilmuwan. Ilmuwan bukan saja berfungsi sebagai penganalisis materi tersebut, tetapi juga harus memiliki moral yang baik.
Kaum ilmuwan tidak boleh menganggap ilmu dan teknologi adalah segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia dengan baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain disamping kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Jika kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya baik secara moral maupun intelektual maka salah satu penyangga masyarakat modern ini, yaitu ilmu pengetahuan akan berdiri secara kokoh.
Di bidang etika tanggung jawab ilmuwan bukan lagi hanya memberikan informasi namun juga memberikan contoh bagaimana bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan, menerima pendapat orang lain, kukuh pada pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin berdasarkan rasionalitas dan metodologis yang tepat. Secara moral seorang ilmuwan tidak akan membiarkan hasil penelitiannya digunakan untuk tujuan yang melanggar asas-asas kemanusian. [13]
Pengetahuan merupakan sarana yang dapat digunakan untuk  kemaslahatan manusia dan dapat pula disalahgunakan. Sehingga tanggung jawab ilmuwan sangatlah besar, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral. Jika ilmuwan telah dapat memenuhi tanggung jawab sosialnya, maka ilmu penetahuan itu akan berkembang dengan pesat, ilmu pengetahuan itu akan dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia, dan ilmu pengetahuan itu tidak akan menimbulkan kerusakan dan konflik di masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN
          Sebagai suatu obyek etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh oleh individu maupun masyarakat untuk menilai suatu tindakan yang akan dikerjakan. Dimana etika memberikan penilaian. batasan dan arahan yang mengatur manusia dalam kelompok sosial lainnya.  Dalam proses penilaiannya etika memberikan arahan agar ilmu pengetahuan  berguna dalam memberikan  arah atau pedoman  dan tujuan masing-masing orang. Ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkan martabat seseorang.
Dalam penyelenggaraan ilmu pengetahuan menurut pendapat beberapa tokoh menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bersifat bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak terpengaruh oleh faktor eksternal seperti faktor politis, idiologis, agama dan budaya. Tetapi dalam penerapannya ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan segi kemaslahatannya bagi umat manusia.
Persoalan yang mendasar dalam etika keilmuan adalah bahwa penerapan ilmu pengetahuan selalu memerlukan pertimbangan dari segi etis yang berpengaruh pada pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang. Sehingga dalam pengembangannya para ilmuwan harus memperhatikan dan menjaga martabat manusia dan kelestarian lingkungan. juga diperlukan, kedewasaan yang sesungguhnya dari manusia untuk menentukan mana  yang baik dan buruk bagi kehidupannya.
Dalam penyelenggaraan ilmu pengetahuan seorang ilmuwan harus menghasilkan pengetahuan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka, kritis rasional, logis dan obyektif. Dan dalam pengembangannya diperlukan moralitas dan tanggung jawab yang tinggi dari ilmuwan sehingga berdampak positif bagi kehidupan manusia. Tanggung jawab ilmuwan meliputi tanggung jawab terhadap tata ilmiah, manusia dan kepada Allah Swt.

Darftar Pustaka
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar,MA,  Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Prof. Konrad Kebung, Ph.D,  Filsafat Ilmu Pengetahuan, Pustakaraya, Jakarta, 2011.

Mohammad Adib, MA, Filsafat Ilmu ( Ontologi, Epistimologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pngetahuan), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011






Senin, 21 April 2014

DOA PADA UPACARA HARI KARTINI 2014 DI SMPN 3 BAGOR NGANJUK



Assalamu’alaikum wr wb

Bismillahirrohmaanirrohiim, alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin
Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa ali sayyidinaa Muhammad

Ya Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahiim

Segala puji dan syukur bagiMu, karena dengan ridho dan pertolonganMu pada hari ini kami bisa bersama-sama memperingati hari Kartini, jadikanlah peringatan hari Kartini ini sebagai inspirasi bagi kami untuk senantiasa memperbaiki diri, menjaga keteguhan dan keikhlasan hati dalam menjalankan tugas dan pengabdian kami bagi kemajuan dan kemuliaan negeri tercinta ini.

Ya Allah Tuhan yang Maha Bijaksana, dan mengabulkan segala pinta

Berikanlah kami para wanita di negeri ini kekuatan lahir dan batin dalam mengabdi untuk bangsa ini, juga sebagai ibu yang selalu mendidik dan membimbing putra putri dan anak didik kami agar senantiasa bersemangat menuntut ilmu, menjadi pribadi yang jujur, tawadhu’, amanah  dan senantiasa beribadah kepadaMu.

Ya Allah tempat kami memanjatkan segala pengharapan

Jadikanlah putra putri dan anak didik kami anak-anak yang sholeh dan sholikhah, yang dalam setiap langkahnya senantiasa memancarkan butir butir keimanan dan kerendahan hati, bukalah pintu hatinya dalam menerima kebaikan dan kebenaranMu, mudahkanlah dalam meraih segala cita-cita yang mulia menjadi orang-orang yang berguna bagi nusa bangsa dan agama dan selalu berbakti kepada kedua orang tua.

Ya Allah ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil.
Tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta tunjukkalah bahwa yang salah itu salah dan berilah kekuatan kepada kami untuk menjauhinya.

Robbana aatinaa fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah wiqinaa ‘adzabannaar. Walhamdu lillahi robbil ‘aalamin

Wassalamu’alaikum wr wb.

Selasa, 08 Januari 2013

LIBURAN MENJADI SAAT SAAT PALING MENYENANGKAN




Bagiku,diantara  hari-hari yang paling membahagiakan adalah saat liburan datang. Tak hanya saat ini ketika aku bukan lagi sebagai anak sekolah. Seperti mengulang kembali ke masa kecil ketika masih duduk di bangku sekolah dulu, masa-masa liburan adalah saat yang paling menyenangkan. Bila masa liburan tiba aku selalu menyambutnya dengan suka cita. Bukan hanya karena hari-hari itu terbebas dari tugas para guru, atau  setiap hari tak harus berkutat dengan buku-buku Tetapi karena masa liburan adalah waktu untuk bisa bermain sepuasnya, meski hanya bermain dengan anak-anak tetangga, atau sekedar membuat rumah-rumahan beratapkan daun pisang dan bertiang kayu penyangga kecil di belakang rumah, kadang juga mencoba masak masakan sederhana, menanak nasi dengan menggunakan kaleng susu bekas, dengan tungku dari batu bata. Semuanya itu berjalan hampir tanpa rencana, semua kegiatan liburan aku lakukan sesuai keinginan spontan.

Sekarang setelah panjangnya waktu berjalan, masa liburan masih menjadi hari-hari yang juga paling aku nantikan. Bukan karena sebagai hari kebebasan dari beban tugas mengajar di sekolah. Liburan bagiku adalah hari khusus untuk bisa berkumpul, bercengkerama dan berbagi cinta dengan seluruh anggota keluarga. Meski sebelumnya telah banyak rencana untuk mengisinya ternyata seringkali yang terjadi adalah banyak hal yang tak terduga itulah yang terlaksana.
 
Seperti liburan semester tahun ini, ada beberapa agenda yang berjalan sesuai dengan yang diharapkan tetapi ada juga  yang terpaksa harus aku kesampingkan, karena ada hal yang penting yang harus aku dahulukan. Hari pertama liburan memang sesuai rencana, sekolah mengadakan acara keluarga ke sarangan, alhamdulillah bisa berjalan dengan lancar meski ada beberapa teman yang terpaksa tidak bisa meramaikan karena beberapa alasan. Bahkan ada yang terpaksa ketinggalan karena datang terlambat dan sudah melebihi toleransi waktu yang diberikan. Menyesal memang, tetapi semoga itu bisa menjadi pelajaran agar suatu ketika nanti lebih bisa menepati waktu sesuai kesepakatan. Di Sarangan semua tampak gembira dan menikmati setiap kebersamaan dengan suasana ceria dari berangkat sampai akhirnya pulang kembali ke sekolah dengan selamat. 

Sepulang dari sarangan kegembiraanku sedikit berkurang karena anak pertamaku yang baru pulang dari pondok ternyata sakit, suhu badannya tinggi. Ada kekhawatiran yang menderaku karena beberapa informasi tentang penyakit anakku yang aku terima dari ustad  yang pernah mengantarnya ke dokter membuatku berpikir untuk segera memeriksakannya secara intensif, termasuk chek up darah dan sebagainya. Setelah semua aku jalani selama 3 hari aku sungguh bersyukur karena apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Dan kondisi anakku-pun sudah seperti biasanya, bermain bersama teman-temannya. Bahkan sempat main hujan-hujanan. Aku lega melihatnya. Aku jadi sedikit ingin memanjakannya selama ia ada di rumah.


Mengetahui kondisi anakku yang tidak perlu dikhawatirkan, aku kembali bisa menikmati liburan dengan hati tenang. Ayah bahkan kemudian mengajak kami untuk jalan-jalan ke gunung kelut. Gunung yang beberapa waktu yang lalu sempat menjadi rebutan  Pemda kediri dan Blitar karena sekarang telah menjadi daerah wisata yang cukup memjanjikan. Ada yang terasa aneh memang ketika sebuah gunung saja menjadi bahan pertikaian. Tetapi kalau berhubungan dengan uang bukan lagi hal yang mengherankan. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana jika ada musibah yang ditimbulkan, apakan masih juga diperebutkan? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya masing-masing lari dari tanggung jawab penanganan. Tetapi info terakhir menyebutkan bahwa berdasarkan keputusan pengadilan gunung kelut masuk wilayah Kediri. Mungkin memang sebuah keputusan yang cukup adil karena yang selama ini membangun akses yang untuk bisa sampai ke puncak kelut dengan lancar juga adalah Pemda Kediri.
Di Puncak kelut sungguh tampak Kebesaran Allah dengan fenomena munculnya kubah gunung kelut, banyak juga yang mengatakan anak gunung kelut. Kawasan yang lima tahun yang lalu masih berupa kawah, saat ini sudah berubah menjadi gundukan bukit yang tingginya hampir menyamai gunung yang ada di sekitarnya. Maha Suci Allah yang telah menunjukkan kebesaran-Nya.


Puas jalan-jalan ke gunung kelut, aku merasakan masih ada yang kurang sebelum aku mengunjungi rumah ibu, tetapi aku belum menemukan waktu yang pas karena ayah masih punya tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal waktu liburan tinggal beberapa hari. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sendiri bersama anak-anak dengan ijin ayah tentunya. Bertemu ibu dan saudara-saudara yang lain menjadi saat yang istimewa, karena biasanya di rumah ibu menjadi pusat keluarga besar kami bertemu pada masa libur seperti ini. Meski tidak semua bisa berkumpul tapi banyak juga keponakan yang pada ngumpul, sehingga waktu menaiki becak goes, dua becak bisa terisi penuh. Sederhana memang kami menikmati liburan disana tapi kebersamaan dan rasa kasing sayang diantara kami yang menbuatnya menjadi istimewa. Dan yang terpenting semua itu membuat ibu merasa bahagia.

Selasa, 10 Juli 2012

Catatan pengobat rindu

          Cukup lama juga aku nggak menjenguk blog-ku, kesibukan selama liburan kemarin seperti tak memberi kesempatan untukku sekedar untuk menuliskan beberapa baris kata, atau mengungkapkan bebarapa kalimat yang melukiskan kerinduanku untuk menulis. Meski aku bukan seorang penulis, tapi aneh aku sering merasa rindu untuk menulis. Tetapi seringkali tidak bisa menuangkannya dalam bentuk kata-kata.
          Yang aku ingat dari kecil aku bukanlah seorang anak yang gemar menulis tetapi aku lebih suka membaca cerita2 fiksi. Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar aku hanya suka membaca buku-buku cerita ringan dari buku perpustakaan sekolah. Setiap hari sabtu bila tiba jadwal untuk meminjam buku, aku pasti sudah menunggu di depan perpustakaan sekolah untuk memilih katalog buku-buku yang aku inginkan. Waktu itu aku paling suka membaca cerita fiksi. Dan yang tak bisa aku lupakan aku dulu pernah punya pengarang favorit yaitu: Adam Saleh. Beliau banyak menulis tentang cerita2 dongeng yang waktu itu sangat populer, yaitu Cinderella, Putri Salju, Raja Kurcaci, Kucing bersepatu laras dan masih banyak lagiyang lain yang karena keterbatasanku aku tak bisa mengingatnya satu persatu. Jadi bila mencari katalog yang pertama aku lihat seringkali dari indeks nama pengarang dengan awal huruf A. Bika ketemu bukunya  Adam Saleh dan belum pernah aku baca pasti aku akan meminjamnya. Aku juga suka baca cerita tentang kisah pewayangan seperti Ramayana atau Mahabharata. Sebab kalau aku sedang baca buku itu di rumah di dekat bapak (almarhum) beliau pasti kemudian ikut bercerita yang menurutku tidak kalah menarik dengan cerita yang ada di buku. Bapak seperti hafal dengan tokoh-tokoh dalam cerita itu lengkap dengan karakternya masing-masing, sehingga mendengar cerita bapak seolah juga melihat tokoh yang sedang beliau ceritakan. Ah, menuliskan kisah ini aku jadi teringat mendiang Bapak. (Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah Swt. Amiiin) Selain itu aku juga suka membaca buku-buku bunga rampai yang berisi kumpulan cerita atau tulisan tentang tips-tips tertentu.
          Kegemaranku membaca cerita fiksi berlanjut sampai aku melanjutkan ke MTs, bahkan sampai sekolah Aliyah. Dulu ada sebuah majalah cerita fiksi yang sangat populer saat itu, aku suka sekali membaca majalah itu. Karena aku gak bisa beli yang baru, aku hanya beli yang bekas saja, karena menurutku cerita kan kenal kadaluwarsa? Aku jadi hampir hafal penulis-penulis yang biasa menulis di majalah itu. Ada Tika Wisnu, Aan S. Kasiwar, Zara Zettira ZR, Sani B Nugroho dll, yang sekarang aku tahu lewat dunia maya bahwa mereka memang para penulis hebat. Dan aku bisa masih bisa menikmati tulisan mereka melalui beberapa catatan atau cerpen yang kebetulan di share di Facebook.
          Tulisan ini hanyalah sekedar untuk mengobati kerinduanku untuk menulis, mungkin tidak berarti apa-apa buat orang lain tetapi bagiku ini adalah obat dari rasa rinduku sendiri. ~~ to be continued ~~~~~~~

Sabtu, 23 Juni 2012

BUDAYA MENCORET2 SERAGAM SAAT KELULUSAN SEKOLAH


Hari kelulusan sekolah  merupakan peristiwa  yang sangat berkesan bagi seluruh siswa dan juga merupakan saat yang ditunggu-tunggu setelah usai menjalani kegiatan Ujian Nasional. Apalagi jika pengumuman yang sangat dinantikan tersebut betul-betul sesuai dengan yang diharapkan, mereka lulus dengan nilai yang bisa dibanggakan. Walaupun sebenarnya kebahagian yang mereka rasakan sejatinya adalah kebahagiaan yang semu, kebahagiaan yang sesaat. Karena setelah kelulusan mereka harus memikirkan akan melanjutkan kemana dan sebagaian dari mereka juga akan dihadapkan pada kehidupan yang sebenarnya, yakni hidup di tengah-tengah masyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.. Sehingga untuk merayakan kelulusan tersebut sebagian siswa mekngekspresikan kegembiraannya dengan berbagai cara. Diantara cara yang mereka lakukan adalah dengan mencoret-coret baju seragam.

          Pada saat pengumuman kelulusan sekolah seperti sudah merupakan sebuah tradisi para siswa merayakannya dengan mencoret-coret baju seragam. Kegiatan tersebut tampaknya sudah menjadi semacam budaya yang turun temurun dan sudah sangat sulit untuk dibendung dan dikendalikan. Meskipun sebelum kelulusan telah ada himbauan dari pihak sekolah bahkan dari Dinas Pendidikan setempat untuk tidak melakukan aksi mencoret-coret seragam sekolah pada saat kelulusan, namun bagi sebagian pelajar hal tersebut tampaknya sudah merupakan tradisi yang tidak bisa ditinggalkan bahkan mungkin harus diwariskan.  Mungkin juga bagi mereka hal itu adalah simbol telah selesainya pendidikan formal di sekolah yang ditinggalkan.
          Aksi corat-coret seragam sangat sulit untuk dikendalikan karena dilakukan diluar sekolah sehingga kewenangan sekolah sudah tidak ada lagi. Terlebih aksi tersebut tidak dilakukan oleh satu sekolah tertentu saja tetapi hampir seluruh lulusan sekolah melakukannya. Tidak hanya di kota-kota, di sekolah yang berada dikawasan pedesaan ternyata juga sudah banyak yang melakukan aksi tersebut. Sepertinya kegiatan mereka sudah  terkoordinasi dan direncanakan sebelumnya, hal ini hal ini bisa dilihat karena seringnya terjadi konvoi bersama-sama di jalanan setelah usai aksi mencoret-coret baju seragam.
            Jika aksi mencoret-coret baju seragam sekolah dan konvoi kendaraan tersebut masih dilakukan dalam batas-batas kewajaran dan tidak mengganggu ketertiban masyarakat mungkin masih bisa ditoleransi karena tidak menimbulkan masalah, tetapi bagaimana jika aksi tersebut dilakukan secara liar? Aksi ini tentunya mempunyai resiko yang tinggi, karena rentan akan terjadinya kecelakaan. Apalagi mereka mengendarai motor tanpa pengaman helm, ditambah dengan suara motor yang knalpotnya dilepas sehingga menimbulkan suara yang dapat memekakkan telinga, memenuhi hampir seluruh badan jalan raya. Hal itu tentu memaksa pengendara lain untuk  memberikan kesempatan kepada para lulusan yang konvoi di jalanan, sebagai antisipasi diri agar tidak terganggu. Tetapi apapun alasannya sebenarnya aksi tersebut merupakan tindakan yang yang sangat disayangkan dan seharusnya tidak dilakukan oleh para pelajar pada saat kelulusan.
Pihak sekolah sebenarnya dapat berusaha mengantisipasi agar aksi-aksi mencoret-coret baju seragam tidak dilakukan, salah satu upaya preventif yaitu dengan mewajibkan para siswa yang akan menerima pengumuman mengenakan pakaian adat atau pakaian nasional dan untuk tingkat SLTA para siswa laki-laki  berpakaian ala seorang eksekutif muda dengan mengenakan dasi.  Cara antisipasi lain yang bisa dilakukan sekolah adalah dengan cara menyampaikan pengumuman dengan mengantarkan pengumuman ke rumah masing-masing siswa, agar para siswa tidak datang ke sekolah dengan mengenakan seragam sekolah sehingga aksi corat coret seragam bisa dicegah. Pihak sekolah juga melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian terdekat  agar pelaksanaan pengumuman berjalan dengan aman, tidak ada kerusuhan dan tidak ada aksi corat coret seragam sekolah yang dilanjutkan dengan konvoi di jalan raya. Namun demikian para lulusan sepertinya juga tidak pernah kehabisan akal, umumnya mereka sudah menyiapkan pakaian seragam dengan cara menitipkan di tempat tertentu.
            Melihat fenomena seperti ini perlu dilakukan usaha secara terus menerus dari pihak sekolah untuk menghimbau kepada para siswa agar tidak melakukan aksi-aksi yang tidak berguna bahkan bisa mengganggu ketertiban umum pada saat kelulusan. Misalnya dengan melakukan pembiasaan pembiasaan yang baik selama proses pembelajaran di sekolah, sehingga akan terbentuk karakter yang baik pada diri siswa. Akan tetapi pihak sekolah juga tidak bisa bekerja sendirian, tetapi harus juga ada koordinasi dengan orang tua, komite sekolah dan masyarakat agar secara bersama-masa melakukan usaha preventif  agar kebiasaan buruk tersebut tidak menjadi sebuah tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Pihak Dinas Pendidikan juga harus memberikan dukungan dengan kebijakan yang tidak memberikan peluang terjadinya hal-hal negatif di kalangan para siswa. Selain itu juga perlu adanya pengawasan bahkan sanksi yang tegas dari pihak keamaan sehingga bisa memberikan pembelajaran dan memberi efek jera.
            Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan para pelajar pada saat pengumuman kelulusan yang sangat berguna bagi diri pelajar itu sendiri dan umumnya bagi orang lain. Misalnya dengan mengumpulkan baju-baju seragam yang sudah tidak dipakai untuk disumbangkan kepada anak lain yang membutuhkan, mengadakan doa bersama yang dikoordinir oleh sekolah atau dengan melibatkan pihak orang tua dan wali murid. Jika hal tersebut dilakukan secara intensif dan terus menerus, budaya negatif di kalangan pelajar pada saat pengumuman kelulusan bisa diminimalkan bahkan tidak mungkin akhirnya bisa dihilangkan.


Sabtu, 26 Mei 2012

BELAJAR JADI DRIVER

Motivasi untuk melakukan sesuatu itu datangnya bisa dari mana saja. Tanpa adanya motivasi maka tidak akan ada aksi, jadi yang ada adalah stagnasi, tidak ada mobilisasi. Dan lama-lama bisa basi... Dan kekuatan motivasi pun ternyata juga bermacam-macam. Bisa biasa-biasa saja sehingga aksi yang terjadipun juga tidak luar biasa. Atau motivasi yang tidak memberi efek apa-apa sehingga meski ada motivasi maka juga tidak ada reaksi apa-apa. Dan motivasi yang mampu membangkitkan kekuatan untuk merubah keadaan, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang biasa menjadi luar biasa....

Maka aku juga tidak bisa mengatakan kira-kira motivasi yang kemudian menggerakkan aku sehingga mau belajar menjadi driver, ini termasuk kategori motivasi yang mana. Sebab kira-kira dua tahun yang lalu aku sudah pernah belajar juga, belum lagi lancar untuk mengoperasikan segala macam peralatan mobil jadulku, aku sudah kehilanagn keinginan untuk melanjutkan, sehingga  mana mungkin akan bisa mengemudikan mobil kebanggaanku itu... hehe... narsis.com. Maka belajarku itupun juga jadi sia-sia. Waktu itu aku hanya bisa mengendalikan roda empat  yang kuandalkan itu di tengah lapangan saja. Berputar-putar tanpa arah dan tujuan. Ya pokoknya jalaaan. Nampaknya saat itu nyaliku-pun tak ada tantangan jadi hanya ada sedikit ketakutan. Tapi begitu memasuki  jalan raya, ciuuuut, nyalikupun langsung mengkeret seperti kerupuk yang kehujanan. Jangankan untuk bisa mengendalikan yang aku kemudikan,  mengendalikan diriku sendiripun sama sekali tak ada keberanian. Akhirnya belajarku tidak aku lanjutkan. Saat itu aku yang aku pikirkan: "Ngapain juga susah-susah belajar mengendarai mobil sendiri, enakan tinggal naik lalu jalan...dan dijamin pasti aman... karena aku sudah punya sopir tersayang yang siap mengantarku kemanapun yang aku mau... hehe..."

Dan ternyata ketika kemudian datang motivasi yang lain, aku tidak bisa membohongiku diriku sendiri bahwa aku gak mau kalah saingan dengan saudara-saudaraku yang perempuan. Kalo tadinya  dua saudaraku yang lain sudah bisa, dan yang satu masih sama seperti aku belum bisa mengemudikan mobil sendiri, aku merasa,  masih ada teman yang juga sama-sama belum bisa. Maka aku merasa tenang-tenang aja. Tapi ketika satu-satunya saudaraku yang belum bisa itu memamerkan kemampuannya mengemudikan sendiri mobil barunya,  aku tidak bisa menyembunyikan keinginanku untuk belajar juga, apalagi dari segi usia dia jauh lebih senior, kenapa aku yang lebih muda tidak meniru pada semangatnya. Setidaknya aku bisa meniru semangatnya untuk lebih mandiri, dan tidak selalu bergantung pada suami. Dengan bisa menjadi driver sendiri  jika ada suami ada kesibukan  sehingga tidak bisa mengantarkan ke tujuan yang kita inginkan, kita bisa melakukan sendiri. Maka itu yang kemudian menjadi motivasiku untk kembali belajar, melanjutkan pelajaranku yang tertunda dua tahun lalu itu. Jadi bukan hanya karena takut kalah saingan.

Aku memang baru belajar, terutama mengendalikan ketakutanku sendiri ketika berada di belakang kemudi, mencoba menguasai diri dan membaca situasi jalan yang aku lewati. Bahkan untuk mengoperasikan segala peralatan mobil-pun aku masih sangat memerlukan ketelatenan, ketelitian dan kesabaran.Untunglah aku punya instruktur yang luar biasa, meski nada suaranya seringkali seperti sedang marah saat memberiku pengarahan, tapi aku tahu itu untuk keselamatanku dan tentu karena rasa sayangnya kepadaku. Terimakasih untuk suamiku, kalau sebelumnya yang memberi motivasi aku adalah saudara-saudara perempuanku maka sekarang suamiku adalah motivator nomor satu. hehehe...

Bingung juga tadi mau nulis apa, maka aku tulis saja ceritaku ini....

 (To be continued...............)


Senin, 07 Mei 2012

Menjadi Pengawas UN, bukan-lah pekerjaan mudah.

Sebenarnya catatan ini aku tulis sudah agak lama, yaitu ketika aku sedang mengawasi Ujian Nasional SMP akhir April lalu. Sekedar untuk mengisi kejenuhan. Setelah menyelesaikan penulisan berita acara, presensi dan mengedarkannya serta mengecek identitas semua peserta ujian untuk memastikan bahwa mereka telah mengisinya dengan benar, hanya duduk manis selama hampir dua jam sambil melototin siswa yang sedang mengerjakan soal-soal ujian ternyata cukup menjenuhkan. Karena tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun kemarin, dimana tempat duduk pengawas saling berdekatan sehingga bisa sambil "bisik-bisik" dengan teman sesama pengawas. Sekarang tempat duduk sengaja dibuat berjauhan, agar pengawas bisa konsen sepenuhnya dalam mengawasi para siswa. Tapi sebenarnya aku  lebih suka kondisi seperti ini. Pengawasan bisa lebih optimal dan  tidak banyak memberi kesempatan anak untuk bekerja sama, lirik sini, lirik sana. Dengan begitu tingkat kejujuran menjadi lebih tinggi yang berati hasil ujian lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Meski kenyataannya masih ada saja yang mencuri-curi kesempatan untuk bisa berbincang2 dengan sesama teman pengawas lainnya.

Menjadi pengawas ujian yang nampaknya sebuah pekerjaan yang mudah, ternyata tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang. Sebagai contoh aku sendiri yang sudah berkali-kali menjadi pengawas, di hari pertama masih merasa nerves juga, takut akan terjadi kesalahan. Begitu juga dengan banyak pengawas lainnya. Nyatanya sesama pengawas satu ruangan kami selalu saling bertanya dan memastikan bahwa tidak terjadi kesalahan dalam kepengawasan yang kami laksanakan. Apalagi bagi pengawas pemula. Hal ini terbukti juga dengan adanya beberapa kesalahan yang dilakukan di hari pertama. Ada yang tanda tangannya belum lengkap, sebagian lagi keliru memasukkan daftar hadir dan berita acara bersama LJUN yang mestinya hanya 1 lembar tapi yang dimasukkan dua lembar, ada juga yang pakta integritas  ditaruh li luar sampul, padahal  mestinya disertakan bersama LJUN. Memang bukan kesalahan yang fatal tetapi tetapi hal ini menandakan bahwa masih saja ada pengawas yang kurang optimal melaksanakan tugasnya. Bisa jadi karena keteledoran atau sekedar merasa gugup sehingga tak sengaja melakukan kesalahan.

Ada peristiwa yang cukup menghebohkan. Karena kurangnya kehati-hatian dan ketelitian pengawas, di salah satu sekolah ada satu ruang yang  terpaksa harus mengulang untuk mengikuti Ujian lagi. Karena pengawas lupa membagikan paket soal tidak sesuai dengan denah yang sudah ditentukan. Akibatnya kedua pengawas tersebut diberikan sangsi oleh dinas agar tidak mengawasi lagi dihari berikutnya, juga diberikan peringatan secara tertulis.  Sebenarnya kalau peristiwa ini diselesaikan dengan tenang dan ada koordinasi dengan panitia setempat dan beberapa unsur yang terkait mungkin tidak perlu terjadi pengulangan, karena pada prinsipnya para siswa sudah menjawab soal dan mengisi kode paket sesuai dengan yang tertera pada soal. Pengaturan denah paket pada masing-masing ruang pada prinsipnya hanya untuk meminimalkan ketidakjujuran dan upaya saling bekerjasama antar peserta ujian. Karena siswa dengan kode paket soal yang sama diatur agar berjauhan. Peristiwa ini memberikan pelajaran agar kita selalu memperhatikan setiap ketentuan yang diberlakukan dan bahwa dalam kondisi apapun kita mesti harus tetap bersikap tenang dan hati-hati, dan tidak lupa untuk selalu ada koordinasi.

Mencermati Ujian Nasional tahun ini, banyak memberikan nuansa baru. Karena banyak hal-hal baru yang diterapkan pada pelaksanaan ujian tahun ini. Sepertinya pemerintah berusaha semaksimal mungkin menjaga kejujuran pelaksanaan ujian nasional dan juga menjaga kridibilitas hasil ujian. Paket soal masih sama dengan tahun yang lalu yaitu sebanyak lima paket, hanya kodenya yang dibuat berbeda dengan tahun sebelumnya. Tetapi denah pembagian paket soal ditentukan oleh panitia tingkat propinsi. Panitia lokal dan pengawas tidak mengetahui sebelumnya tentang denah tersebut. Pengawas ruang juga baru bisa melihat denah itu setelah membuka soal-soal ujian. Penyegelan soal juga sangat ketat, sampul soal dibuat berlapis yang masing-msing disegel dengan stiker yang sengaja dibuat terpecah2 sehingga kalau ada yang membuka segel tersebut pasti akan rusak dan sobek menjadi beberapa bagian. Ada sampul luar yang disegel, berisi sampul soal yang juga disegel dan sampul LJUN. Hasil LJUN penyegelannya dilakukan oleh pengawas ruang di ruang ujian nasional dengan menggunakan segel stiker yang sama seperti sampul soal tadi. Sehingga jika tidak berhati-hati ketika membuka stiker itu bisa terpecah menjadi beberapa bagian. Maka tak heran jika dihari pertama ada beberapa segel hasil LJUN yang rusak dan terpecah menjadi tiga atau empat bagian. Kekuranghati2an dan ketergesaan pengawas saat membukanya bisa menyebabkan stiker itu sobek.

Dengan penyegelan yang demikian ketat tersebut sebenarnya peluang kebocoran soal sangatlah kecil. Tetapi anehnya masih saja ada berita tentang kebocoran soal di berbagai tempat yang setelah dicek kebenaran jawabannya mencapai sembilapuluh persen. Berarti memang kemungkinan besar berita itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Kalau ada peristiwa seperti ini berarti pasti ada keterlibatan pihak-pihak tertentu yang menghalalkan segala cara untuk bisa meluluskan para siswanya.


Pengawas ruang ujian nasional  memiliki peran yang sangat penting dalam mengantisipasi adanya kecurangan selama pelaksanaan ujian. Dalam satu ruangan hanya terdiri dari duapuluh peserta, dan di ruangan tertentu yaitu ruang terakhir di suatu sekolah bisa kurang dari itu karena merupakan sisa dari ruang sebelumnya. Pengaturan tempat duduk diatur agak jarang dan tidak berdempetan. Dengan pengawas sebanyak dua orang  tidak sulit untuk bisa melihat setiap gerak gerik peserta ujian sekecil apapun.  Jika pengawas melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya akan bisa diketahui denga mudah jika ada yang melakukan kecurangan. Termasuk jika diantara peserta ujian ada yang mendapat suplai jawaban baik melalui hp atau kertas jawaban. Gerakan anak ketika membuka hp atau menyalin jawaban bisa diketahui, juga ketika anak tersebut harus mengedarkan atau memberitahukan jawaban kepada teman yang paketnya sama. Karena peserta dengan paket yang sama tempat duduknya relatif berjauhan. Pengawas ruang juga diberikan kewenangan penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan bila terjadi kecurangan. Jadi meski seandainya  ada kebocoran soal sebelum pelaksanaan ujian, tetapi peredaran jawabannya bisa dicegah di ruang ujian. Sehingga kebocoran soal yang terjadi sebelumnya tidak berarti apa-apa karena jawabannya tidak bisa sampai kepada siswa. Inilah sebenarnya begitu pentingnya tugas seorang pengawas ruang Ujian Nasional. Mereka punya tanggung jawab yang besar untuk menjaga kredibelitas hasil ujian dibawah pengawasannya.


Tetapi pada kenyataannya apakah semua berjalan seperti yang diharapkan? Inilah sulitnya. Semua seolah sudah dikondisikan agar pelaksanaan Ujian Nasional bisa berjalan agak longgar, seolah semua telah diatur sedemikian rupa sehingga peserta ujian bisa saling bantu dalam mengerjakan soal-soal. Meski mungkin masih ada juga pengawas yang melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari, itupun harus rela berbenturan dengan pengawas lainnya yang tidak sejalan bahkan mungkin akan tersisihkan oleh sistem. Jadi siapa bilang menjadi pengawas ujian nasional itu mudah?

Sebenarnya kalau kita mau jujur kelulusan yang dicapai dengan kecurangan pastilah merugikan siswa itu sendiri baik dari segi mental maupun masa depannya.  Anak akan menjadi pribadi yang tidak bisa mandiri dan selalu menggantungkan diri kepada orang lain, malas berusaha, dan akan cenderung mencari jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkannya dengan "menghalalkan" berbagai cara. Mereka seperti diajarkan untuk melakukan itu semua. Jadi bagaimana mungkin mereka akan menjadi generasi yang bisa diandalkan?

Rasanya ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua insan yang terlibat dalam dunia pendidikan, agar ujian nasional benar-benar terlaksana dengan penuh kejujuran dan hasinya memiliki kredibelitas yang tinggi. Tidak sekedar mencapai target lulus 100% tetapi kenyataannya hanya ibarat membangun istana di atas pasir...

Wallahu a'lam bisshawab...

(Meski aku mengawasi sambil menulis catatan ini aku tetap melaksanakan tugas kepengawasan dengan sebaik-baiknya...)