Selasa, 08 Januari 2013

LIBURAN MENJADI SAAT SAAT PALING MENYENANGKAN




Bagiku,diantara  hari-hari yang paling membahagiakan adalah saat liburan datang. Tak hanya saat ini ketika aku bukan lagi sebagai anak sekolah. Seperti mengulang kembali ke masa kecil ketika masih duduk di bangku sekolah dulu, masa-masa liburan adalah saat yang paling menyenangkan. Bila masa liburan tiba aku selalu menyambutnya dengan suka cita. Bukan hanya karena hari-hari itu terbebas dari tugas para guru, atau  setiap hari tak harus berkutat dengan buku-buku Tetapi karena masa liburan adalah waktu untuk bisa bermain sepuasnya, meski hanya bermain dengan anak-anak tetangga, atau sekedar membuat rumah-rumahan beratapkan daun pisang dan bertiang kayu penyangga kecil di belakang rumah, kadang juga mencoba masak masakan sederhana, menanak nasi dengan menggunakan kaleng susu bekas, dengan tungku dari batu bata. Semuanya itu berjalan hampir tanpa rencana, semua kegiatan liburan aku lakukan sesuai keinginan spontan.

Sekarang setelah panjangnya waktu berjalan, masa liburan masih menjadi hari-hari yang juga paling aku nantikan. Bukan karena sebagai hari kebebasan dari beban tugas mengajar di sekolah. Liburan bagiku adalah hari khusus untuk bisa berkumpul, bercengkerama dan berbagi cinta dengan seluruh anggota keluarga. Meski sebelumnya telah banyak rencana untuk mengisinya ternyata seringkali yang terjadi adalah banyak hal yang tak terduga itulah yang terlaksana.
 
Seperti liburan semester tahun ini, ada beberapa agenda yang berjalan sesuai dengan yang diharapkan tetapi ada juga  yang terpaksa harus aku kesampingkan, karena ada hal yang penting yang harus aku dahulukan. Hari pertama liburan memang sesuai rencana, sekolah mengadakan acara keluarga ke sarangan, alhamdulillah bisa berjalan dengan lancar meski ada beberapa teman yang terpaksa tidak bisa meramaikan karena beberapa alasan. Bahkan ada yang terpaksa ketinggalan karena datang terlambat dan sudah melebihi toleransi waktu yang diberikan. Menyesal memang, tetapi semoga itu bisa menjadi pelajaran agar suatu ketika nanti lebih bisa menepati waktu sesuai kesepakatan. Di Sarangan semua tampak gembira dan menikmati setiap kebersamaan dengan suasana ceria dari berangkat sampai akhirnya pulang kembali ke sekolah dengan selamat. 

Sepulang dari sarangan kegembiraanku sedikit berkurang karena anak pertamaku yang baru pulang dari pondok ternyata sakit, suhu badannya tinggi. Ada kekhawatiran yang menderaku karena beberapa informasi tentang penyakit anakku yang aku terima dari ustad  yang pernah mengantarnya ke dokter membuatku berpikir untuk segera memeriksakannya secara intensif, termasuk chek up darah dan sebagainya. Setelah semua aku jalani selama 3 hari aku sungguh bersyukur karena apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Dan kondisi anakku-pun sudah seperti biasanya, bermain bersama teman-temannya. Bahkan sempat main hujan-hujanan. Aku lega melihatnya. Aku jadi sedikit ingin memanjakannya selama ia ada di rumah.


Mengetahui kondisi anakku yang tidak perlu dikhawatirkan, aku kembali bisa menikmati liburan dengan hati tenang. Ayah bahkan kemudian mengajak kami untuk jalan-jalan ke gunung kelut. Gunung yang beberapa waktu yang lalu sempat menjadi rebutan  Pemda kediri dan Blitar karena sekarang telah menjadi daerah wisata yang cukup memjanjikan. Ada yang terasa aneh memang ketika sebuah gunung saja menjadi bahan pertikaian. Tetapi kalau berhubungan dengan uang bukan lagi hal yang mengherankan. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana jika ada musibah yang ditimbulkan, apakan masih juga diperebutkan? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya masing-masing lari dari tanggung jawab penanganan. Tetapi info terakhir menyebutkan bahwa berdasarkan keputusan pengadilan gunung kelut masuk wilayah Kediri. Mungkin memang sebuah keputusan yang cukup adil karena yang selama ini membangun akses yang untuk bisa sampai ke puncak kelut dengan lancar juga adalah Pemda Kediri.
Di Puncak kelut sungguh tampak Kebesaran Allah dengan fenomena munculnya kubah gunung kelut, banyak juga yang mengatakan anak gunung kelut. Kawasan yang lima tahun yang lalu masih berupa kawah, saat ini sudah berubah menjadi gundukan bukit yang tingginya hampir menyamai gunung yang ada di sekitarnya. Maha Suci Allah yang telah menunjukkan kebesaran-Nya.


Puas jalan-jalan ke gunung kelut, aku merasakan masih ada yang kurang sebelum aku mengunjungi rumah ibu, tetapi aku belum menemukan waktu yang pas karena ayah masih punya tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal waktu liburan tinggal beberapa hari. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sendiri bersama anak-anak dengan ijin ayah tentunya. Bertemu ibu dan saudara-saudara yang lain menjadi saat yang istimewa, karena biasanya di rumah ibu menjadi pusat keluarga besar kami bertemu pada masa libur seperti ini. Meski tidak semua bisa berkumpul tapi banyak juga keponakan yang pada ngumpul, sehingga waktu menaiki becak goes, dua becak bisa terisi penuh. Sederhana memang kami menikmati liburan disana tapi kebersamaan dan rasa kasing sayang diantara kami yang menbuatnya menjadi istimewa. Dan yang terpenting semua itu membuat ibu merasa bahagia.

Selasa, 10 Juli 2012

Catatan pengobat rindu

          Cukup lama juga aku nggak menjenguk blog-ku, kesibukan selama liburan kemarin seperti tak memberi kesempatan untukku sekedar untuk menuliskan beberapa baris kata, atau mengungkapkan bebarapa kalimat yang melukiskan kerinduanku untuk menulis. Meski aku bukan seorang penulis, tapi aneh aku sering merasa rindu untuk menulis. Tetapi seringkali tidak bisa menuangkannya dalam bentuk kata-kata.
          Yang aku ingat dari kecil aku bukanlah seorang anak yang gemar menulis tetapi aku lebih suka membaca cerita2 fiksi. Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar aku hanya suka membaca buku-buku cerita ringan dari buku perpustakaan sekolah. Setiap hari sabtu bila tiba jadwal untuk meminjam buku, aku pasti sudah menunggu di depan perpustakaan sekolah untuk memilih katalog buku-buku yang aku inginkan. Waktu itu aku paling suka membaca cerita fiksi. Dan yang tak bisa aku lupakan aku dulu pernah punya pengarang favorit yaitu: Adam Saleh. Beliau banyak menulis tentang cerita2 dongeng yang waktu itu sangat populer, yaitu Cinderella, Putri Salju, Raja Kurcaci, Kucing bersepatu laras dan masih banyak lagiyang lain yang karena keterbatasanku aku tak bisa mengingatnya satu persatu. Jadi bila mencari katalog yang pertama aku lihat seringkali dari indeks nama pengarang dengan awal huruf A. Bika ketemu bukunya  Adam Saleh dan belum pernah aku baca pasti aku akan meminjamnya. Aku juga suka baca cerita tentang kisah pewayangan seperti Ramayana atau Mahabharata. Sebab kalau aku sedang baca buku itu di rumah di dekat bapak (almarhum) beliau pasti kemudian ikut bercerita yang menurutku tidak kalah menarik dengan cerita yang ada di buku. Bapak seperti hafal dengan tokoh-tokoh dalam cerita itu lengkap dengan karakternya masing-masing, sehingga mendengar cerita bapak seolah juga melihat tokoh yang sedang beliau ceritakan. Ah, menuliskan kisah ini aku jadi teringat mendiang Bapak. (Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah Swt. Amiiin) Selain itu aku juga suka membaca buku-buku bunga rampai yang berisi kumpulan cerita atau tulisan tentang tips-tips tertentu.
          Kegemaranku membaca cerita fiksi berlanjut sampai aku melanjutkan ke MTs, bahkan sampai sekolah Aliyah. Dulu ada sebuah majalah cerita fiksi yang sangat populer saat itu, aku suka sekali membaca majalah itu. Karena aku gak bisa beli yang baru, aku hanya beli yang bekas saja, karena menurutku cerita kan kenal kadaluwarsa? Aku jadi hampir hafal penulis-penulis yang biasa menulis di majalah itu. Ada Tika Wisnu, Aan S. Kasiwar, Zara Zettira ZR, Sani B Nugroho dll, yang sekarang aku tahu lewat dunia maya bahwa mereka memang para penulis hebat. Dan aku bisa masih bisa menikmati tulisan mereka melalui beberapa catatan atau cerpen yang kebetulan di share di Facebook.
          Tulisan ini hanyalah sekedar untuk mengobati kerinduanku untuk menulis, mungkin tidak berarti apa-apa buat orang lain tetapi bagiku ini adalah obat dari rasa rinduku sendiri. ~~ to be continued ~~~~~~~

Sabtu, 23 Juni 2012

BUDAYA MENCORET2 SERAGAM SAAT KELULUSAN SEKOLAH


Hari kelulusan sekolah  merupakan peristiwa  yang sangat berkesan bagi seluruh siswa dan juga merupakan saat yang ditunggu-tunggu setelah usai menjalani kegiatan Ujian Nasional. Apalagi jika pengumuman yang sangat dinantikan tersebut betul-betul sesuai dengan yang diharapkan, mereka lulus dengan nilai yang bisa dibanggakan. Walaupun sebenarnya kebahagian yang mereka rasakan sejatinya adalah kebahagiaan yang semu, kebahagiaan yang sesaat. Karena setelah kelulusan mereka harus memikirkan akan melanjutkan kemana dan sebagaian dari mereka juga akan dihadapkan pada kehidupan yang sebenarnya, yakni hidup di tengah-tengah masyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.. Sehingga untuk merayakan kelulusan tersebut sebagian siswa mekngekspresikan kegembiraannya dengan berbagai cara. Diantara cara yang mereka lakukan adalah dengan mencoret-coret baju seragam.

          Pada saat pengumuman kelulusan sekolah seperti sudah merupakan sebuah tradisi para siswa merayakannya dengan mencoret-coret baju seragam. Kegiatan tersebut tampaknya sudah menjadi semacam budaya yang turun temurun dan sudah sangat sulit untuk dibendung dan dikendalikan. Meskipun sebelum kelulusan telah ada himbauan dari pihak sekolah bahkan dari Dinas Pendidikan setempat untuk tidak melakukan aksi mencoret-coret seragam sekolah pada saat kelulusan, namun bagi sebagian pelajar hal tersebut tampaknya sudah merupakan tradisi yang tidak bisa ditinggalkan bahkan mungkin harus diwariskan.  Mungkin juga bagi mereka hal itu adalah simbol telah selesainya pendidikan formal di sekolah yang ditinggalkan.
          Aksi corat-coret seragam sangat sulit untuk dikendalikan karena dilakukan diluar sekolah sehingga kewenangan sekolah sudah tidak ada lagi. Terlebih aksi tersebut tidak dilakukan oleh satu sekolah tertentu saja tetapi hampir seluruh lulusan sekolah melakukannya. Tidak hanya di kota-kota, di sekolah yang berada dikawasan pedesaan ternyata juga sudah banyak yang melakukan aksi tersebut. Sepertinya kegiatan mereka sudah  terkoordinasi dan direncanakan sebelumnya, hal ini hal ini bisa dilihat karena seringnya terjadi konvoi bersama-sama di jalanan setelah usai aksi mencoret-coret baju seragam.
            Jika aksi mencoret-coret baju seragam sekolah dan konvoi kendaraan tersebut masih dilakukan dalam batas-batas kewajaran dan tidak mengganggu ketertiban masyarakat mungkin masih bisa ditoleransi karena tidak menimbulkan masalah, tetapi bagaimana jika aksi tersebut dilakukan secara liar? Aksi ini tentunya mempunyai resiko yang tinggi, karena rentan akan terjadinya kecelakaan. Apalagi mereka mengendarai motor tanpa pengaman helm, ditambah dengan suara motor yang knalpotnya dilepas sehingga menimbulkan suara yang dapat memekakkan telinga, memenuhi hampir seluruh badan jalan raya. Hal itu tentu memaksa pengendara lain untuk  memberikan kesempatan kepada para lulusan yang konvoi di jalanan, sebagai antisipasi diri agar tidak terganggu. Tetapi apapun alasannya sebenarnya aksi tersebut merupakan tindakan yang yang sangat disayangkan dan seharusnya tidak dilakukan oleh para pelajar pada saat kelulusan.
Pihak sekolah sebenarnya dapat berusaha mengantisipasi agar aksi-aksi mencoret-coret baju seragam tidak dilakukan, salah satu upaya preventif yaitu dengan mewajibkan para siswa yang akan menerima pengumuman mengenakan pakaian adat atau pakaian nasional dan untuk tingkat SLTA para siswa laki-laki  berpakaian ala seorang eksekutif muda dengan mengenakan dasi.  Cara antisipasi lain yang bisa dilakukan sekolah adalah dengan cara menyampaikan pengumuman dengan mengantarkan pengumuman ke rumah masing-masing siswa, agar para siswa tidak datang ke sekolah dengan mengenakan seragam sekolah sehingga aksi corat coret seragam bisa dicegah. Pihak sekolah juga melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian terdekat  agar pelaksanaan pengumuman berjalan dengan aman, tidak ada kerusuhan dan tidak ada aksi corat coret seragam sekolah yang dilanjutkan dengan konvoi di jalan raya. Namun demikian para lulusan sepertinya juga tidak pernah kehabisan akal, umumnya mereka sudah menyiapkan pakaian seragam dengan cara menitipkan di tempat tertentu.
            Melihat fenomena seperti ini perlu dilakukan usaha secara terus menerus dari pihak sekolah untuk menghimbau kepada para siswa agar tidak melakukan aksi-aksi yang tidak berguna bahkan bisa mengganggu ketertiban umum pada saat kelulusan. Misalnya dengan melakukan pembiasaan pembiasaan yang baik selama proses pembelajaran di sekolah, sehingga akan terbentuk karakter yang baik pada diri siswa. Akan tetapi pihak sekolah juga tidak bisa bekerja sendirian, tetapi harus juga ada koordinasi dengan orang tua, komite sekolah dan masyarakat agar secara bersama-masa melakukan usaha preventif  agar kebiasaan buruk tersebut tidak menjadi sebuah tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Pihak Dinas Pendidikan juga harus memberikan dukungan dengan kebijakan yang tidak memberikan peluang terjadinya hal-hal negatif di kalangan para siswa. Selain itu juga perlu adanya pengawasan bahkan sanksi yang tegas dari pihak keamaan sehingga bisa memberikan pembelajaran dan memberi efek jera.
            Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan para pelajar pada saat pengumuman kelulusan yang sangat berguna bagi diri pelajar itu sendiri dan umumnya bagi orang lain. Misalnya dengan mengumpulkan baju-baju seragam yang sudah tidak dipakai untuk disumbangkan kepada anak lain yang membutuhkan, mengadakan doa bersama yang dikoordinir oleh sekolah atau dengan melibatkan pihak orang tua dan wali murid. Jika hal tersebut dilakukan secara intensif dan terus menerus, budaya negatif di kalangan pelajar pada saat pengumuman kelulusan bisa diminimalkan bahkan tidak mungkin akhirnya bisa dihilangkan.


Sabtu, 26 Mei 2012

BELAJAR JADI DRIVER

Motivasi untuk melakukan sesuatu itu datangnya bisa dari mana saja. Tanpa adanya motivasi maka tidak akan ada aksi, jadi yang ada adalah stagnasi, tidak ada mobilisasi. Dan lama-lama bisa basi... Dan kekuatan motivasi pun ternyata juga bermacam-macam. Bisa biasa-biasa saja sehingga aksi yang terjadipun juga tidak luar biasa. Atau motivasi yang tidak memberi efek apa-apa sehingga meski ada motivasi maka juga tidak ada reaksi apa-apa. Dan motivasi yang mampu membangkitkan kekuatan untuk merubah keadaan, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang biasa menjadi luar biasa....

Maka aku juga tidak bisa mengatakan kira-kira motivasi yang kemudian menggerakkan aku sehingga mau belajar menjadi driver, ini termasuk kategori motivasi yang mana. Sebab kira-kira dua tahun yang lalu aku sudah pernah belajar juga, belum lagi lancar untuk mengoperasikan segala macam peralatan mobil jadulku, aku sudah kehilanagn keinginan untuk melanjutkan, sehingga  mana mungkin akan bisa mengemudikan mobil kebanggaanku itu... hehe... narsis.com. Maka belajarku itupun juga jadi sia-sia. Waktu itu aku hanya bisa mengendalikan roda empat  yang kuandalkan itu di tengah lapangan saja. Berputar-putar tanpa arah dan tujuan. Ya pokoknya jalaaan. Nampaknya saat itu nyaliku-pun tak ada tantangan jadi hanya ada sedikit ketakutan. Tapi begitu memasuki  jalan raya, ciuuuut, nyalikupun langsung mengkeret seperti kerupuk yang kehujanan. Jangankan untuk bisa mengendalikan yang aku kemudikan,  mengendalikan diriku sendiripun sama sekali tak ada keberanian. Akhirnya belajarku tidak aku lanjutkan. Saat itu aku yang aku pikirkan: "Ngapain juga susah-susah belajar mengendarai mobil sendiri, enakan tinggal naik lalu jalan...dan dijamin pasti aman... karena aku sudah punya sopir tersayang yang siap mengantarku kemanapun yang aku mau... hehe..."

Dan ternyata ketika kemudian datang motivasi yang lain, aku tidak bisa membohongiku diriku sendiri bahwa aku gak mau kalah saingan dengan saudara-saudaraku yang perempuan. Kalo tadinya  dua saudaraku yang lain sudah bisa, dan yang satu masih sama seperti aku belum bisa mengemudikan mobil sendiri, aku merasa,  masih ada teman yang juga sama-sama belum bisa. Maka aku merasa tenang-tenang aja. Tapi ketika satu-satunya saudaraku yang belum bisa itu memamerkan kemampuannya mengemudikan sendiri mobil barunya,  aku tidak bisa menyembunyikan keinginanku untuk belajar juga, apalagi dari segi usia dia jauh lebih senior, kenapa aku yang lebih muda tidak meniru pada semangatnya. Setidaknya aku bisa meniru semangatnya untuk lebih mandiri, dan tidak selalu bergantung pada suami. Dengan bisa menjadi driver sendiri  jika ada suami ada kesibukan  sehingga tidak bisa mengantarkan ke tujuan yang kita inginkan, kita bisa melakukan sendiri. Maka itu yang kemudian menjadi motivasiku untk kembali belajar, melanjutkan pelajaranku yang tertunda dua tahun lalu itu. Jadi bukan hanya karena takut kalah saingan.

Aku memang baru belajar, terutama mengendalikan ketakutanku sendiri ketika berada di belakang kemudi, mencoba menguasai diri dan membaca situasi jalan yang aku lewati. Bahkan untuk mengoperasikan segala peralatan mobil-pun aku masih sangat memerlukan ketelatenan, ketelitian dan kesabaran.Untunglah aku punya instruktur yang luar biasa, meski nada suaranya seringkali seperti sedang marah saat memberiku pengarahan, tapi aku tahu itu untuk keselamatanku dan tentu karena rasa sayangnya kepadaku. Terimakasih untuk suamiku, kalau sebelumnya yang memberi motivasi aku adalah saudara-saudara perempuanku maka sekarang suamiku adalah motivator nomor satu. hehehe...

Bingung juga tadi mau nulis apa, maka aku tulis saja ceritaku ini....

 (To be continued...............)


Senin, 07 Mei 2012

Menjadi Pengawas UN, bukan-lah pekerjaan mudah.

Sebenarnya catatan ini aku tulis sudah agak lama, yaitu ketika aku sedang mengawasi Ujian Nasional SMP akhir April lalu. Sekedar untuk mengisi kejenuhan. Setelah menyelesaikan penulisan berita acara, presensi dan mengedarkannya serta mengecek identitas semua peserta ujian untuk memastikan bahwa mereka telah mengisinya dengan benar, hanya duduk manis selama hampir dua jam sambil melototin siswa yang sedang mengerjakan soal-soal ujian ternyata cukup menjenuhkan. Karena tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun kemarin, dimana tempat duduk pengawas saling berdekatan sehingga bisa sambil "bisik-bisik" dengan teman sesama pengawas. Sekarang tempat duduk sengaja dibuat berjauhan, agar pengawas bisa konsen sepenuhnya dalam mengawasi para siswa. Tapi sebenarnya aku  lebih suka kondisi seperti ini. Pengawasan bisa lebih optimal dan  tidak banyak memberi kesempatan anak untuk bekerja sama, lirik sini, lirik sana. Dengan begitu tingkat kejujuran menjadi lebih tinggi yang berati hasil ujian lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Meski kenyataannya masih ada saja yang mencuri-curi kesempatan untuk bisa berbincang2 dengan sesama teman pengawas lainnya.

Menjadi pengawas ujian yang nampaknya sebuah pekerjaan yang mudah, ternyata tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang. Sebagai contoh aku sendiri yang sudah berkali-kali menjadi pengawas, di hari pertama masih merasa nerves juga, takut akan terjadi kesalahan. Begitu juga dengan banyak pengawas lainnya. Nyatanya sesama pengawas satu ruangan kami selalu saling bertanya dan memastikan bahwa tidak terjadi kesalahan dalam kepengawasan yang kami laksanakan. Apalagi bagi pengawas pemula. Hal ini terbukti juga dengan adanya beberapa kesalahan yang dilakukan di hari pertama. Ada yang tanda tangannya belum lengkap, sebagian lagi keliru memasukkan daftar hadir dan berita acara bersama LJUN yang mestinya hanya 1 lembar tapi yang dimasukkan dua lembar, ada juga yang pakta integritas  ditaruh li luar sampul, padahal  mestinya disertakan bersama LJUN. Memang bukan kesalahan yang fatal tetapi tetapi hal ini menandakan bahwa masih saja ada pengawas yang kurang optimal melaksanakan tugasnya. Bisa jadi karena keteledoran atau sekedar merasa gugup sehingga tak sengaja melakukan kesalahan.

Ada peristiwa yang cukup menghebohkan. Karena kurangnya kehati-hatian dan ketelitian pengawas, di salah satu sekolah ada satu ruang yang  terpaksa harus mengulang untuk mengikuti Ujian lagi. Karena pengawas lupa membagikan paket soal tidak sesuai dengan denah yang sudah ditentukan. Akibatnya kedua pengawas tersebut diberikan sangsi oleh dinas agar tidak mengawasi lagi dihari berikutnya, juga diberikan peringatan secara tertulis.  Sebenarnya kalau peristiwa ini diselesaikan dengan tenang dan ada koordinasi dengan panitia setempat dan beberapa unsur yang terkait mungkin tidak perlu terjadi pengulangan, karena pada prinsipnya para siswa sudah menjawab soal dan mengisi kode paket sesuai dengan yang tertera pada soal. Pengaturan denah paket pada masing-masing ruang pada prinsipnya hanya untuk meminimalkan ketidakjujuran dan upaya saling bekerjasama antar peserta ujian. Karena siswa dengan kode paket soal yang sama diatur agar berjauhan. Peristiwa ini memberikan pelajaran agar kita selalu memperhatikan setiap ketentuan yang diberlakukan dan bahwa dalam kondisi apapun kita mesti harus tetap bersikap tenang dan hati-hati, dan tidak lupa untuk selalu ada koordinasi.

Mencermati Ujian Nasional tahun ini, banyak memberikan nuansa baru. Karena banyak hal-hal baru yang diterapkan pada pelaksanaan ujian tahun ini. Sepertinya pemerintah berusaha semaksimal mungkin menjaga kejujuran pelaksanaan ujian nasional dan juga menjaga kridibilitas hasil ujian. Paket soal masih sama dengan tahun yang lalu yaitu sebanyak lima paket, hanya kodenya yang dibuat berbeda dengan tahun sebelumnya. Tetapi denah pembagian paket soal ditentukan oleh panitia tingkat propinsi. Panitia lokal dan pengawas tidak mengetahui sebelumnya tentang denah tersebut. Pengawas ruang juga baru bisa melihat denah itu setelah membuka soal-soal ujian. Penyegelan soal juga sangat ketat, sampul soal dibuat berlapis yang masing-msing disegel dengan stiker yang sengaja dibuat terpecah2 sehingga kalau ada yang membuka segel tersebut pasti akan rusak dan sobek menjadi beberapa bagian. Ada sampul luar yang disegel, berisi sampul soal yang juga disegel dan sampul LJUN. Hasil LJUN penyegelannya dilakukan oleh pengawas ruang di ruang ujian nasional dengan menggunakan segel stiker yang sama seperti sampul soal tadi. Sehingga jika tidak berhati-hati ketika membuka stiker itu bisa terpecah menjadi beberapa bagian. Maka tak heran jika dihari pertama ada beberapa segel hasil LJUN yang rusak dan terpecah menjadi tiga atau empat bagian. Kekuranghati2an dan ketergesaan pengawas saat membukanya bisa menyebabkan stiker itu sobek.

Dengan penyegelan yang demikian ketat tersebut sebenarnya peluang kebocoran soal sangatlah kecil. Tetapi anehnya masih saja ada berita tentang kebocoran soal di berbagai tempat yang setelah dicek kebenaran jawabannya mencapai sembilapuluh persen. Berarti memang kemungkinan besar berita itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Kalau ada peristiwa seperti ini berarti pasti ada keterlibatan pihak-pihak tertentu yang menghalalkan segala cara untuk bisa meluluskan para siswanya.


Pengawas ruang ujian nasional  memiliki peran yang sangat penting dalam mengantisipasi adanya kecurangan selama pelaksanaan ujian. Dalam satu ruangan hanya terdiri dari duapuluh peserta, dan di ruangan tertentu yaitu ruang terakhir di suatu sekolah bisa kurang dari itu karena merupakan sisa dari ruang sebelumnya. Pengaturan tempat duduk diatur agak jarang dan tidak berdempetan. Dengan pengawas sebanyak dua orang  tidak sulit untuk bisa melihat setiap gerak gerik peserta ujian sekecil apapun.  Jika pengawas melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya akan bisa diketahui denga mudah jika ada yang melakukan kecurangan. Termasuk jika diantara peserta ujian ada yang mendapat suplai jawaban baik melalui hp atau kertas jawaban. Gerakan anak ketika membuka hp atau menyalin jawaban bisa diketahui, juga ketika anak tersebut harus mengedarkan atau memberitahukan jawaban kepada teman yang paketnya sama. Karena peserta dengan paket yang sama tempat duduknya relatif berjauhan. Pengawas ruang juga diberikan kewenangan penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan bila terjadi kecurangan. Jadi meski seandainya  ada kebocoran soal sebelum pelaksanaan ujian, tetapi peredaran jawabannya bisa dicegah di ruang ujian. Sehingga kebocoran soal yang terjadi sebelumnya tidak berarti apa-apa karena jawabannya tidak bisa sampai kepada siswa. Inilah sebenarnya begitu pentingnya tugas seorang pengawas ruang Ujian Nasional. Mereka punya tanggung jawab yang besar untuk menjaga kredibelitas hasil ujian dibawah pengawasannya.


Tetapi pada kenyataannya apakah semua berjalan seperti yang diharapkan? Inilah sulitnya. Semua seolah sudah dikondisikan agar pelaksanaan Ujian Nasional bisa berjalan agak longgar, seolah semua telah diatur sedemikian rupa sehingga peserta ujian bisa saling bantu dalam mengerjakan soal-soal. Meski mungkin masih ada juga pengawas yang melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari, itupun harus rela berbenturan dengan pengawas lainnya yang tidak sejalan bahkan mungkin akan tersisihkan oleh sistem. Jadi siapa bilang menjadi pengawas ujian nasional itu mudah?

Sebenarnya kalau kita mau jujur kelulusan yang dicapai dengan kecurangan pastilah merugikan siswa itu sendiri baik dari segi mental maupun masa depannya.  Anak akan menjadi pribadi yang tidak bisa mandiri dan selalu menggantungkan diri kepada orang lain, malas berusaha, dan akan cenderung mencari jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkannya dengan "menghalalkan" berbagai cara. Mereka seperti diajarkan untuk melakukan itu semua. Jadi bagaimana mungkin mereka akan menjadi generasi yang bisa diandalkan?

Rasanya ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua insan yang terlibat dalam dunia pendidikan, agar ujian nasional benar-benar terlaksana dengan penuh kejujuran dan hasinya memiliki kredibelitas yang tinggi. Tidak sekedar mencapai target lulus 100% tetapi kenyataannya hanya ibarat membangun istana di atas pasir...

Wallahu a'lam bisshawab...

(Meski aku mengawasi sambil menulis catatan ini aku tetap melaksanakan tugas kepengawasan dengan sebaik-baiknya...)

Selasa, 10 April 2012

Belajar dari masalah...

Hidup ini ibarat sebuah perjalanan, banyak liku-likunya, licin, bergelombang, dan banyak sandungan. Terkadang terjal dan mendaki lalu tiba-tiba menurun sehingga membuat seseorang terjungkal bila tidak siap menghadapinya.Sama dengan permasalahan yg sering kita hadapi, hampir tidak pernah sepi, selalu datang dan pergi. Tetapi inilah hidup. Selama nafas masih dikandung badan masalah memang tidak pernah selesai.Dalam belitan masalah yang seolah tdk pernah berakhir itu sebenarnya setiap orang pasti  memiliki cara untuk menyelesaikannya, seseorang akan belajar dengan sendirinya. Pengalaman akan selalu memberikan pelajaran kepada kita. Seperti kata sebuah ungkapan: pengalaman adalah guru yang terbaik. Kata orang:  orang yang pintar adalah yang selalu bisa mengambil pelajaran dari masa lalunya dan menjadikannya bahan perenungan untuk menentukan setiap tindakan berikutnya. Orang yang baik bukan orang yang tak pernah salah, tetapi orang yang menyadari kesalahannya dan segera berusaha memperbaikinya. (Begitulah kata Bang Haji Rhoma Irama, hahaha...)

Seperti  penyakit yang menyerang tubuh kita, setiap ada penyakit yang masuk ke dalam tubuh, maka secara otomatis tubuh akan membentuk antibodi, daya kekebalan untuk melawan. Semakin berat penyakit, antibody makin memberikan kekuatan untuk bertahan, meski tentu sampai pada batas tententu, ketika tubuh tak kuat lagi melawannya, kita membutuhkan bantuan dari luar juga. Begitulah Allah memberi kita potensi. Allah memberikan penyakit, pasti disertai dengan obatnya. Begitu juga dengan permasalahan yang melingkupi diri kita. Jika Allah memberikan permasalahan pasti juga memberikan jalan penyelesaian. Tetapi kita sering tidak menyadari dengan kemampuan kita sendiri. Atau karena memang kita yang tidak mau memanfaatkannya, karena selalu saja ada kecenderungan untuk mencari kemudahan?

Mungkin memang sudah kodrat manusia selalu mencari yang mudah, sehingga setiap menemukan kesulitan cenderung menghindar seolah kesulitan memang sesuatu yang seharusnya dijauhkan. Padahal bukankah tidak akan pernah ada kata mudah jika tidak ada kata susah. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang yang tidak bisa dipisahkan. Tetapi anehnya kebanyakan kita memang hanya mencari satu sisi yang paling kita sukai yang disebut kemudahan. Kesulitan memang seringkali dihindari, padahal sebenarnya kesulitan itu bukan untuk dijauhi tetapi untuk dipecahkan dan dicarikan jalan penyelesaian. Jika selamanya kita menghindari permasalahan maka sesungguhnya kita tidak akan pernah belajar. Seseorang akan jadi pintar setelah mampu melewati ujian demi ujian. Seseorang akan jadi lebih tangguh setelah dihadapkan pada rintangan dan tantangan kemudian mampu ia taklukkan.

Seseorang yang tidak pernah menghadapi kesulitan dalam perjalanan hidupnya akan tumbuh menjadi sebuah pribadi yang rapuh. Masalah yang kecil saja akan menjadikan sebuah kebingungan yang besar dan keputus asaan-lah yang akan menimpanya ketika tak ditemukan jalan keluar . Ibarat sebatang pohon yang akan mudah patah meski hanya oleh angin yang bertiup tak seberapa. Juga meski hanya dengan sebuah sentuhan yang kecil saja.Tetapi lihatlah sebatang pohon bambu yang biasa diterpa kencangnya angin, ia tidak mudah tumbang meski angin demikian kuat menerpa. Seperti itu pula sebuah pribadi yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam persoalan dalam kehidupannya, tidak akan mudah putus asa meski sebesar apapun kesulitan yang dihadapinya.  Maka sebenarnya kesulitan dan masalah adalah cara Allah menjadikan kita menjadi orang yang kuat dan tak mudah menyerah oleh berbagai masalah.

 "Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, Apabila kamu telah selesai dalam satu urusan, maka segeralah mengerjakan urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya engkau berharap". QS. Al Insyirah: 5-8.

"Menangislah, untuk Cinta Tuhan-mu...!"

Menangis? Mendengar kata ini mungkin  yang terbayang dalam benak kita adalah sifat cengeng, sikap lemah, dan rasa putus asa. Dan semua itu selalu saja dihubung-hubungkan dengan perempuan. Padahal kenyataannya, menangis tidak selamanya menggambarkan sifat2 negatif dan sikap yang lemah. Dan menangis  tak selamanya pula didominasi oleh kaum hawa, karena priapun ternyata juga sering melakukannya meskipun tidak secara terbuka mengakuinya.

Menangis bukanlah sesuatu yang harus  membuat kita merasa malu, karena menangis sebenarnya adalah salah satu bentuk ungkapan hati, sebuah luapan  perasaan yang emosional. Ekspresi ini bisa  jadi merupakan wujud dari kekurangan dan kelemahan  kita bahwa dalam kondisi dan situasi tertentu, ketika kita mengalami berbagai tekanan, mendapatkan bermacam cobaan yang tak berkesudahan, maka ketika itu kita tak mampu menahan beratnya beban perasaan. Akhirnya air matapun bercucuran. Tapi apapun alasannya, yang terpenting tidak terlalu larut dalam tangis, atau sampai menjadi histeris. Karena seringkali setelah menangis hati terasa lebih lega.

Bagi orang yang beriman, menangis juga merupakan  bentuk kepasrahan dan ketundukan hati kita kepada Allah. Menangis di hadapan Allah adalah salah satu wujud kelembutan hati seorang mukmin. Ketika kita bisa menumpahkan airmata  saat bersimpuh dihadapanNya, tangis dan iarmata itu yang akan menghadirkan kedamaian di hati kita, meskipun disaat yang sama kita akan merasa tidak berarti apa-apa dibandingkan betapa keagungan-Nya yang tiada batasnya. Sebaliknya apabila saat berdoa tak setitikpun airmata yang menetes di pipi kita, ketika itu yang terasa adalah betapa kerasnya hati kita. Saat itu mungkin akan timbul kesadaran bahwa kita telah banyak melakukan kesalahan, sering lalai dan mengabaikan perintah-perintah Allah sehingga tanpa kita sadari telah semakin menjauhkan kita dari cinta dan kasih sayang-Nya.  Hati yang keras karena kekhilafan dan dosa-dosa  kita membuat kita tak lagi mudah meneteskan airmata ketika bersimpuh di hadapanNya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah Saw pernah menangis ketika putra beliau Ibrahim dipanggil oleh Allah Swt. Bahkan di lain waktu, ketika menjelang beliau wafat, beliau juga pernah menangis di depan malaikat Jibril. Hal ini dilakukan Rasulullah.saw karena mengkhawatirkan nasib umatnya kelak di akhirat. Demikian pula Abu Bakar As Sidiq, beliau  selalu menangis tersedu ketika sedang shalat, sehingga putrinya, Aisyah Ra, menjuluki ayahnya ini dengan “Rajulun Baky” atau lelaki yang suka menangis. Inilah salah satu bukti, bahwa sesungguhnya menangis bisa terjadi pada siapa saja,  dengan berbagai alasan yang berbeda.

Dalam Al Qur’an juga banyak dijelaskan tentang sifat orang-orang yang beriman yang apabila di sebutkan Nama Allah atau ketika dibacakan ayat-ayat suci Al Qur’an kemudian tersungkur, bersujud dan menangis dan semakin bertambah kekhusukannya kepada Allah:
“….Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila dibacakan Al Qur’an kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusu’.(QS.Al Isra 17 :107 – 109)
Dalam ayat lain juga disebutkan: “…..dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam 19: 58).

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yang menjelaskan tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Golongan yang ke tujuh adalah seseorang yang mengingat Allah ketika sedang sendirian lalu air matanya mengalir. Air mata yang mengalir sebagai bentuk pengakuan betapa keagungan Allah sungguh tiada bandingan, betapa tanpa pertolongan-Nya manusia bukanlah apa-apa, hanya ibarat  sebutir pasir di tengah luasnya gurun sahara. Betapa hebatnya, betapa mulianya, meski hanya sekedar air mata atau tangis yang sering dianggap orang sebagai bentuk kelemahan diri belaka. Tetapi air mata itulah yang suatu ketika nanti di hari kiamat yang akan menghadirkan naungan Allah di saat tidak ada tempat bernaung kecuali naunganNya. Subhanallah!

Maka kita tidak perlu malu untuk menangis, kalau memang itu bisa meringankan beban di hati kita. Dan betapa kita akan merasakan kelembutan di  hati kita tatkala kita sedang  bersujud,  tersungkur dan menangis di hadapan Allah, dalam tahajud di ujung malam malam kita, ketika kebanyakan manusia tengah terlelap dalam mimpinya, sementara kita bersimbah airmata dalam berjuta harap yang tak pernah lenyap atas kasih sayang dan ampunan-Nya. Tangis yang  akan menambah keimanan dan menyadarkan kita betapa tidak berdayanya kita tanpa pertolongan dan kasih sayang Allah. Tangis yang akan  semakin mendekatkan kita dan membawa kita berlabuh pada cinta-Nya.

Maka menangislah, untuk kelembutan hatimu dan Cinta Tuhan-mu…!

Wallahu a'lam bisshawab.